INDRAMAYU — Universitas NU Karangampel, institusi pendidikan tinggi yang berlokasi di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mencatat pencapaian signifikan dalam dunia penelitian akademik. Tim peneliti yang terdiri dari dosen dan mahasiswa program studi Teknik Pertanian berhasil mengembangkan inovasi teknologi pengolahan air termal untuk meningkatkan produktivitas pertanian berkelanjutan di wilayah pesisir.
Penelitian yang dimulai sejak Januari 2025 ini menghasilkan prototipe sistem desalinasi dan pengolahan air berbasis energi termal yang dapat diimplementasikan di daerah-daerah dengan keterbatasan sumber air bersih. Teknologi ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan petani lokal Indramayu yang sering menghadapi permasalahan kekeringan dan salinitas tanah.
“Kami memulai riset ini karena melihat permasalahan nyata di lapangan. Banyak petani di sekitar Indramayu yang mengalami kesulitan mendapatkan air irigasi berkualitas baik, terutama pada musim kemarau. Kami ingin menciptakan solusi teknologi yang tidak hanya efektif tetapi juga terjangkau dan ramah lingkungan,” ungkap Dr. Bambang Sutrisno, Ketua Tim Peneliti dan Dosen Program Studi Teknik Pertanian NU Karangampel, dalam wawancara eksklusif dengan redaksi pada Rabu, 2 April 2026.
### Latar Belakang Penelitian dan Motivasi Akademik
Indramayu merupakan salah satu kabupaten penghasil padi terbesar di Indonesia, namun daerah ini juga menghadapi tantangan geografis yang unik. Sebagian besar wilayahnya merupakan daerah pesisir dengan tingkat salinitas tanah yang tinggi. Selain itu, semakin meningkatnya intensitas kekeringan akibat perubahan iklim membuat ketersediaan air tawar semakin terbatas.
Situasi ini menjadi titik awal dari penelitian komprehensif yang melibatkan mahasiswa dari berbagai tingkat akademik. Proyek riset ini dimulai dengan survey lapangan yang melibatkan lebih dari 150 petani di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Lohbener, Sukra, Jatibarang, Cikedung, dan Karangampel.
“Data yang kami kumpulkan menunjukkan bahwa 62 persen petani responden mengalami penurunan hasil panen sebesar 20-30 persen dalam tiga tahun terakhir, terutama karena kualitas air irigasi yang buruk. Ini adalah masalah yang harus diselesaikan dengan pendekatan ilmiah yang solid,” kata Siti Nurhaliza, mahasiswa tingkat akhir Program Studi Teknik Pertanian yang menjadi koordinator penelitian lapangan.
### Inovasi Teknologi Pengolahan Air Termal
Hasil penelitian yang diumumkan secara resmi pada 3 April 2026 ini menghadirkan sebuah sistem inovatif yang memanfaatkan energi termal—baik dari matahari maupun dari limbah panas industri lokal—untuk memproses air asin atau air dengan kadar garam tinggi menjadi air yang layak untuk irigasi pertanian.
Teknologi ini dikembangkan dengan menggabungkan prinsip-prinsip reverse osmosis, distilasi multi-efek, dan pertukaran ion yang disesuaikan dengan kondisi iklim tropis dan potensi energi terbarukan di Indramayu. Keunikan dari desain ini terletak pada penggunaan panel surya berteknologi tinggi yang dipadukan dengan sistem pembuangan limbah garam yang ramah lingkungan.
“Sistem yang kami kembangkan dapat memproses 1.000 liter air per hari dengan tingkat keberhasilan desalinasi mencapai 98 persen. Biaya operasional per liter hanya berkisar Rp 50, jauh lebih murah dibandingkan teknologi serupa yang tersedia di pasaran,” jelaskan Prof. Dr. Hendra Gunawan, Rektor NU Karangampel, dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Auditorium Kampus Pusat.
Prototipe telah diuji coba di tiga lokasi berbeda selama enam bulan terakhir dengan hasil yang memuaskan. Uji lapangan menunjukkan peningkatan produktivitas tanaman padi rata-rata 35 persen pada area yang menggunakan sistem pengolahan air termal ini dibandingkan dengan kelompok kontrol yang masih menggunakan metode irigasi konvensional.
### Keterlibatan Mahasiswa dan Pembelajaran Praktis
Salah satu aspek penting dari penelitian ini adalah keterlibatan intensif mahasiswa dalam setiap tahap pengembangan teknologi. Lebih dari 40 mahasiswa dari berbagai program studi, tidak hanya Teknik Pertanian tetapi juga Teknik Mesin dan Manajemen Sumber Daya Alam, turut berkontribusi dalam proyek ini.
“Penelitian ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengaplikasikan pengetahuan teoritis mereka dalam menyelesaikan masalah praktis yang nyata di masyarakat. Ini adalah pembelajaran yang paling berharga,” kata Ir. Yusuf Hidayat, Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengembangan, sambil meninjau laboratorium tempat mahasiswa menjalankan eksperimen.
Mahasiswa-mahasiswa ini tidak hanya terlibat dalam penelitian dan pengembangan teknologi, tetapi juga turun langsung ke lapangan untuk membangun unit percobaan, melatih petani, dan mengumpulkan data-data penting. Pengalaman ini membuat mereka lebih siap menghadapi tantangan profesional di dunia kerja.
Dari tim peneliti, sebanyak 15 mahasiswa telah menyiapkan proposal penelitian lanjutan untuk program pascasarjana berdasarkan insight yang mereka peroleh selama proyek ini berlangsung. Tiga di antaranya bahkan telah mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan studi ke jenjang magister.
### Dukungan dan Kolaborasi Institusional
Kesuksesan penelitian ini tidak lepas dari dukungan penuh dari Rektorat NU Karangampel, khususnya melalui alokasi dana penelitian internal sebesar Rp 2,5 miliar. Selain itu, penelitian juga mendapatkan pendanaan tambahan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi melalui program Riset Hibah Kompetitif sebesar Rp 3 miliar.
Kolaborasi juga terjalin dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu, Balai Penelitian Tanaman Padi Sukamandi, dan beberapa Kelompok Tani di wilayah Indramayu. Sinergi ini menciptakan ekosistem penelitian yang kuat dan relevan dengan kebutuhan riil masyarakat.
“Kami sangat apresiasi inisiatif NU Karangampel dalam melakukan penelitian yang langsung bermanfaat bagi petani lokal. Pemerintah Kabupaten Indramayu berkomitmen untuk mendukung implementasi teknologi ini ke tingkat yang lebih luas,” ujar Drh. Bambang Irawan, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu, dalam sambutannya saat acara peluncuran proyek penelitian.
### Dampak Sosial Ekonomi dan Keberlanjutan Lingkungan
Jika teknologi ini berhasil diimplementasikan secara masif, diproyeksikan akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi ekonomi petani lokal. Berdasarkan kalkulasi ekonomi yang dilakukan tim peneliti, petani dapat meningkatkan pendapatan mereka rata-rata 40 persen per musim tanam, dengan tingkat investasi awal yang masuk akal untuk skala usaha kecil menengah.
Dari aspek keberlanjutan lingkungan, teknologi ini juga menawarkan keunggulan kompetitif. Sistem pengolahan limbah garam yang dikembangkan tim NU Karangampel mampu meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem laut pesisir. Limbah garam yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk industri garam konsumsi atau bahan kimia, menciptakan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
“Dari perspektif lingkungan, teknologi ini memastikan bahwa proses desalinasi tidak menambah beban pencemaran laut. Bahkan, limbah yang dihasilkan dapat diolah lebih lanjut untuk kebutuhan komersial. Ini adalah inovasi yang benar-benar berkelanjutan,” papar Dr. Siti Rohani, Dosen Program Studi Manajemen Sumber Daya Alam sekaligus salah seorang peneliti, dengan antusias.
### Rencana Implementasi dan Pengembangan Selanjutnya
Tim peneliti NU Karangampel saat ini sedang mempersiapkan fase implementasi yang lebih luas. Rencananya, pada kuartal ketiga 2026, akan dibangun lima unit sistem pengolahan air termal di lima desa berbeda di Indramayu sebagai pilot project skala komunitas.
“Setelah fase pilot project, kami akan melakukan evaluasi menyeluruh sebelum merekomendasikan kepada pemerintah untuk ekspansi lebih luas. Target kami adalah bahwa dalam tiga tahun ke depan, teknologi ini telah dapat diakses oleh minimal 500 petani di Indramayu dan sekitarnya,” tambah Dr. Bambang Sutrisno dengan optimisme yang terpancar.
Universitas NU Karangampel juga sedang mengurus hak paten untuk teknologi ini bersama dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa inovasi ini dapat dikembangkan lebih lanjut dan tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
### Pengakuan Akademik dan Publikasi Ilmiah
Hasil-hasil penelitian ini telah dipublikasikan dan disampaikan dalam berbagai forum akademik. Tim peneliti telah menyerahkan makalah penelitian ke tiga jurnal internasional bereputasi, dan telah diterima untuk dipresentasikan di konferensi teknologi pertanian internasional di Bangkok pada Mei 2026.
“Publikasi dalam forum internasional ini penting untuk memberikan kontribusi kepada komunitas ilmuwan global dan meningkatkan reputasi NU Karangampel di tingkat dunia. Kami bangga bahwa penelitian yang berawal dari permasalahan lokal Indramayu ini dapat memberikan inspirasi bagi solusi serupa di berbagai belahan dunia,” ujar Prof. Dr. Hendra Gunawan dengan bangga.
### Penutup
Penelitian inovatif yang dilakukan dosen dan mahasiswa NU Karangampel ini merupakan contoh nyata dari bagaimana lembaga pendidikan tinggi dapat berperan aktif dalam menghadirkan solusi konkret untuk permasalahan masyarakat. Teknologi pengolahan air termal ini bukan hanya sekadar hasil akademik yang tersimpan di perpustakaan, melainkan sebuah alat perubahan sosial yang siap diterapkan di lapangan.
Kesuksesan penelitian ini juga menunjukkan bahwa NU Karangampel, meskipun berada di daerah pinggiran, memiliki kapasitas dan komitmen untuk menghasilkan riset berkualitas internasional. Dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah, institusi penelitian, dan masyarakat, adalah optimisme yang beralasan untuk percaya bahwa inovasi ini akan membawa perubahan positif nyata bagi kehidupan ribuan petani di Indramayu dalam waktu dekat.
Penelitian ini juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terlibat dalam riset-riset yang tidak hanya akademik tetapi juga bermakna sosial. Dengan demikian, NU Karangampel terus menegaskan visinya sebagai universitas yang mengabdi pada masyarakat melalui penelitian dan inovasi berkelanjutan.
—
Artikel ini ditulis berdasarkan konferensi pers dan wawancara dengan berbagai pihak yang terlibat dalam proyek penelitian pada 2-3 April 2026 di Kampus NU Karangampel, Indramayu.